tentang saya (3)

akhirnya kandas, karena saya tidak berani mengemukakan isi hati (istilah sekarang tidak berani nembak duluan). Apalagi niat itupun terputus oleh kesibukan saya mempersiapkan ujian akhir. Sedikit demi sedikit bunga cinta layu sebelum berkembang :-(

Hal lain yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah ketika saya kelas enam SD untuk pertama kalinya saya mengenal rasanya rokok. Begitu saya membaca pengumuman hasil ujian dan saya tahu bahwa saya lulus, maka saya dan teman-teman merayakan kelulusan tersebut dengan berkumpul di warung dekat sekolah. Saya dan teman-teman merokok. Pada hisapan pertama saya merasakan pusing setengah mati. Apalagi rokok yang saya hisap adalah rokok putih yang ketika itu harganya Rp 100/3 batang.

Pengalaman pertama menghisap rokok putih yang membuat kepala pusing tersebut ternyata awal dari diri saya menjadi perokok berat. Ada sih rencana berhenti total dari kecanduan rokok, tapi selalu tidak berhasil. Pernah berhenti merokok tapi kemudian merokok lagi. Apalagi ketika naik gunung, udara dingin. Yang enak pasti merokok. Namun sejak sekitar April 2003 saya berhasil berhenti merokok secara total hingga sekarang. Mudah-mudahan bisa seterusnya….

Sekolah di “Luar Negeri”

Setelah lulus sekolah dasar, maunya saya masuk ke smp negeri. Tapi karena tidak lulus testing, ya terpaksa sekolah di “luar negeri” (maksudnya bukan di sekolah negeri). Saya masuk sekolah SMP Nasional yang berada di Jalan RE Martadinata Bandung. Saya beruntung masuk sekolah ini, karena selain bangunan fisiknya bagus, juga sistem pendidikan dan gurunya bermutu. Ayah saya pun lulusan SMP Nasional.

Selama tiga tahun merampungkan sekolah menengah pertama, saya tidak pernah membayar uang SPP. Selama tiga tahun turut-turut saya mendapat beasiswa. Pemberian beasiswa adalah tradisi SMP Nasional sejak dulu.

Waktu pertama masuk SMP, saya ditempatkan di kelas I-F –ini boleh dikatakan kelas favorit, karena tiga besar yang mendapat nilai tertinggi berada di kelas ini. Ketika itu saya mendapat nilai tertinggi untuk matapelajaran Ilmu Ukur dan Aljabar (dua matapelajaran yang sangat saya sukai). Saya masih ingat ketika saya masih kelas II, saya dipanggil guru Ilmu Ukur kelas III. Saya disuruh masuk ke ruang kelas III untuk menyelesaikan soal di papan tulis (rupanya guru itu lagi kesal, karena seluruh murid kelas III yang ada di ruang itu tidak ada yang bisa menyelesaikan soal tersebut). Dan Alhamdulillah saya bisa mengerjakan soal Ilmu Ukur di papan tulis.

Ketika masih di SMP, saya paling suka olahraga hoki. Selama tiga tahun di sekolah lanjutan pertama, saya menekuni olahraga hoki. Hoki adalah olahraga wajib, selain sepakbola, basket, dan berenang.