25 Tahun Jadi Wartawan

Posted on

Pada tanggal 15 Juli 2011 ini genap 25 tahun saya hidup di dunia jurnalistik. Seperempat abad terasa singkat. Ketika mengingat semua itu, seolah baru kemarin saya melakukan psikotes di kantornya Pak Sartono (Mukadis) di Jakarta Selatan. Memang koran Sinar Harapan yang mengirim saya untuk psikotes sekitar bulan Maret 1986.
Psikotes hanya satu dari sekian rangkaian tes untuk menjadi seorang reporter di koran sore tersebut. Selain psikotes ada tes wawancara. Saya masih ingat diwawancara wartawan senior Pak Daud Sinjal (saya tidak tahu apa jabatannya waktu itu). Saya juga diwawancara “pejabat-pejabat” Sinar Harapan lainnya, seperti Wakil Pemred Pak Max.

Setelah mengikuti serangkaian tes, maka tanggal 15 Juli 1986 adalah hari pertama saya ngantor di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur. Kalau kita lihat kalender, tanggal tersebut adalah hari Rabu.

Lalu mengapa masuknya mulai tanggal 15, mengapa tidak tanggal 1? Mungkin karena tanggal gajian di SH adalah tanggal 1 dan 15. Jadi mungkin karyawan baru bisa masuk tanggal 1 atau tanggal 15.

Pada pertama masuk saya ada di desk iptek dan langsung di bawah bimbingan Pak Subekti, seorang wartawan 3 zaman yang kalau kita baca tulisannya sangat mengalir alias enak dibaca. Selama saya berkarir di koran SH (dan berlanjut di Suara Pembaruan) saya ada di desk iptek.

Ketika itu saya sering meliput Pak Habibie sebagai Menristek/Kepala BPPT dan segudang jabatan lain di Industri Strategis (BPIS). Juga meliput kegiatan di LIPI, Batan, industri komputer, dan kampus.

Pada tanggal 8 Oktober 1986 koran SH dibredel. Saya masih ingat pada tanggal 7 malam saya mewawancarai guru besar Unhas A Muis lewat telepon. Tapi hasil wawancara tersebut tidak pernah dimuat, karena koran SH dibredel keesokan harinya.

Selama hampir 4 bulan koran dibredel. Sesuai aturan SIUPP, koran yg dibredel tidak mungkin terbit lagi. Kalau mau terbit harus ganti nama.

Selama masa pembredelan, para wartawan mengikui inhouse training. Salah satunya latihan mengetik di komputer (maklum sebelumnya kami membuat naskah pakai mesin tik). Program yang dipakai adalah WordStar, program pengolah kata yang sangat populer letika itu.

Karena selama dibredel tidak ada pemasukan bagi perusahaan, maka selama dibredel gaji dipotong 50 persen dan gaji yang dipotong itu akan dikembalikan jika koran terbit lagi.

Senin 9 Februari 1987 pemerintah membolehkan koran terbit lagi dengan nama Suara Pembaruan.

Pada tahun 1998 saya tidak lagi di koran SP. Di era reformasi, bersama teman-teman mendirikan koran sore Suara Bangsa ( 1999 ). Setelah itu saya bekerja di media online Mediaku.com ( 2000 ), terus pindah ke Satunet.com ( 2001 ).

Sejak 27 Mei 2002 hingga sekarang saya bekerja di MetroTV.

Langkah demi langkah sudah ditempuh. Seperempat abad sudah berlalu. Kini saya masih melangkah ke depan, masih di dunia jurnalistik. Mudah-mudahan saya masih kuat melangkah untuk menggenapkan kiprah saya di dunia jurnalistik. Aamiin.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SILAKAN ISI *