|
|
|
bandung,sejarahmuberulang oleh: Hendra Messa Ada sebuah trend baru dalam pengembangan bangunan bisnis di Bandung, yaitu dalam format city walk. Ada 2 proyek bisnis, yaitu Cihampelas Walk dan Braga Walk, sebuah format bangunan bisnis yg ide dasarnya bernuansa akrab, jalan-jalan yg nyaman di perkotaan (pedestrian). Beberapa waktu yg lalu, saya sempat jalan2 ke Ciwalk (Cihampelas Walk). Pertama kali itu lah saya pergi ke Ciwalk setelah hampir setahun tempat tersebut didirikan. Jadi kesempatan juga untuk tahu lebih jauh seperti apa sih Cihampelas Walk tsb, karena ada format baru bangunan pertokoan dg format Walk (sambil jalan2). Tempat lain yg sedang dibangun di Bandung adalah Braga Citywalk, yg kebetulan sama2 berada di pinggir Sungai Cikapundung yg membelah kota Bandung. Di Braga Citywalk, pedestriannya terkesan sempit dan lebih menekankan fasilitas apartemen dan hotel. Sempat naik ke lantai atas apartemennya dan terlihat pula pemandangan indah Bandung ke berbagai arah, yg dikelilingi pegunungan. Tapi bila kita melihat ke area sekitar di bawah tampak Sungai Cikapundung yg kotor dan pemukiman padat di sekitarnya. Terasa kontras dg kemegahan bangunan tsb. Dari sisi lanskap dan kenyamanan, Cihampelas Walk lebih terasa nuansa alamnya, karena kontur kemiringan alam dan pepohonannya tertata baik. Jalan Romantis
Berjalan2 keliling tempat tersebut nyaman juga, di mana toko2 ditata bagaikan berbaris dilalui jalan kecil yg nyaman. Ooh maksudnya city walk itu mungkin pertokoan yg bisa kita lewati sambil jalan2. Jadi bisa belanja atau sekadar jalan2 saja, cukup menarik juga. Toko2nya nampaknya untuk konsumsi kelas menengah atas, terlihat dari merek toko2nya yg kebanyakan franchise dari toko2 terkenal kelas dunia. Ada juga tempat minum kopi yg berada di lantai atas dengan pemandangan lepas ke lembah Cikapundung dan bagian selatan Bandung. Tak jauh, terlihat melintang gagah jembatan layang Pasupati dengan tiang pancang dan untaian kabelnya yg khas, indah sekali dan terasa nyaman sambil minum kopi serta ngobrol2 dengan teman. Berada di sana rasanya kita sedang berada di luar negeri saja, spt di Eropa atau Amerika. Selepas minum kopi, saya berjalan agak jauh ke pinggiran, ingin melihat lebih jelas ke arah lembah tsb. Wuih sangat kontras sekali pemandangannya. Ternyata di belakangnya pas kita berada di dekat Sungai Cikapundung, di sebelah samping ada kolam renang Tjihampelas yg telah dibangun sejak zaman Belanda dan terkenal karena airnya berasal dari mata air yg banyak ditemukan di tepi Sungai Cikapundung, terkenal sebagai tempat mandi2 orang Belanda zaman baheula, yang mana inlander tak boleh masuk. Di sebelah kolam renang Cihampelas, ada jembatan kecil melintas Cikapundung. Jembatan ini biasa dilewati oleh pejalan kaki dari Cihampelas ke Jalan Tamansari, melewati pinggir Kebon Binatang di Jl. Tamansari. Jalan kecil ini cukup romantis dan indah sebenarnya. Kalau kita turun dari Cihampelas, di samping kiri kanan jalan tumbuh rimbun pohon2 bambu, yg suara gesekan daunnya sangat khas terdengar, suara yg kemudian akan berpadu dg suara gemericik air dari Sungai Cikapundung di seberangnya. Ada jembatan kecil di atas Sungai Cikapundung, pas di sebelah kolam renang Cihampelas, jalan tersebut akan terus bersambung dg jalan kecil di samping Kebon Binatang Bandung dan berujung di Jl. Tamansari , dekat kampus ITB. Jalan yg romantis ini pula lah yg dulu sering dilewati oleh mantan pacar saya, ketika berjalan dari sekolahnya di SMA 2 Bandung, Jl. Cihampelas, pergi mengaji ke masjid salman ITB di Jl. Ganesha, menapaki jalan kecil yang melintas lembah tsb. Di seberang sungai terlihat pohon2 besar dari Kebon Binatang Bandung. Dari kejauhan tampak pula gedung2 tinggi kampus ITB di Jl. Ganesha dan di selatan terbentang jembatan layang Pasupati. Sebuah landscape alam yg indah. Konon daerah tersebut saat zaman Belanda memang dijadikan semacam taman kota di mana2 sebagian air dari Sungai Cikapundung ditampung untuk mengairi sumber2 tanaman di sana , sehingga daerah tersebut dikenal nama daerah yg khas seperti Tamansari, Kebon Bibit, Kebon Kembang, dan Pelesiran. Memang daerah tersebut dulunya adalah tempat pembibitan tanaman/bunga untuk menghiasi taman2 di kota Bandung yg saat zaman Belanda dulu terlihat begitu indah dan nyaman dengan begitu banyak taman2nya, dari sinilah sumber tanamannya. Semua Jadi Maklum Lembah Cikapundung sejak dari sebelah utaranya di Jl. Siliwangi sampai di selatan Jalan Wastukencana, di timur membentang Jalan Tamansari dan di barat membentang Jalan Cihampelas. Memang landscape alam yg indah, yg waktu kecil dulu adalah favorit untuk dilewati saat ngabuburit (waktu menunggu buka puasa). Area bagian utara dikenal dg Lebak Siliwangi, cukup indah dan pernah jadi tempat wisata saat ini menjadi area di mana dibangun sarana olahraga dan seni Sabuga (Sasana Budaya Ganesha ).
Seandainya para perancang kota bisa menata kota dg baik, lembah Cikapundung ini akan jadi landscape kota yg indah dengan jalan yg rapih di pinggir Cikapundung yg mengalir di tengah2nya. Rumah2 tertata rapih, begitu pula bangunan2 bisnisnya . Sungainya yang jernih bisa kita arungi dengan sampan kecil mulai dari utara di Jalan Siliwangi sampai ke bawah di Jalan Wastukencana. di kedua pinggir sungai jalan kecil dan pohon2 yg tertata rapih. Pengalaman wisata sungai yg mengesankan, seperti kita berperahu di Sungai Mekong Bangkok atau sungai2 kecil di kota Amsterdam. Kabarnya Pemerintah Kota Bandung berencana menertibkan rumah2 di pinggir Kali Cikapundung tsb, karena melanggar batas sempadan sungai, 10 meter kiri kanan sungai harus bebas dari bangunan. Menurut rencana, di sepanjang kiri kanan sungai tsb akan dibuat jalan inspeksi dan taman, dengan rumah2 menghadap ke arah sungai. Kalau terlaksana, akan indah sekali dan merupakan pengalaman menarik berjalan menyusuri sungai tersebut mulai dari bagian atas di persimpangan dg Jalan Siliwangi, sampai ke bawah di Jalan Sulanjana. Nah itu baru yg benar-benar nama nya "citywalk", arena wisata jalan menyusuri lembah Sungai Cikapundung yg bisa bebas dinikmati setiap warga kota. Bayangkan itu semua bisa jadi sebuah landmark alam kota Bandung yg sangat indah, apalagi di sebelah timur lembah tersebut berdiri kampus ITB, tempatnya ahli teknik dan juga perancangan kota/landscape (teknik planologi ). Namun kita semua jadi maklum, memang seperti itulah kebanyakan kota2 kita terbangun sendirinya, tanpa perencanaan yg rapih. Sehingga bila kita berada di pinggir bagian atas Cihampelas walk atau di pinggir jembatan layang Pasupati, keindahan hanya terasa ketika malam hari, dimana lembah tsb bermandikan sinar2 kecil yg menyebar. Bila siang hari, kita akan temukan perumahan padat yg tak teratur, sungai yg kotor dimana pinggiran sungai telah juga menjadi kakus dan tempat sampah, sungai jadi bagian belakang rumah2 tsb, tempat membuang limbah. Menutup Keindahan
Logika ekonomi, kapitalismelah yg sekarang menata wajah kota, juga lokasi sekitar lembah Cikapundung tersebut. Bangunan bisnis sepanjang Jalan Cihampelas dan Dago telah menjadi favorit pembelanja dari Jakarta yg sekarang semakin banyak setelah dibukanya jalan tol Cipularang yg membuat waktu tempuh ke Bandung semakin singkat. Perputaran uang itulah yg menjadi acuan bagaimana kota berkembang. Bung Hatta, dalam bukunya Demokrasi Ekonomi, menyatakan bahwa tanpa demokrasi ekonomi, manusia hanya akan menemukan ketidakadilan dan ketidakmerataan, dan hal tersebut bisa sedikit menjelaskan fenomena yg terjadi di kota2 besar Indonesia. Semua jadi komoditas, termasuk alam terkembang yg harusnya bisa dinikmati semua pihak, sekarang hanya dengan uanglah, alam dan suasananya yg indah dan nyaman bisa dinikmati, seperti minum kopi di kafe Ciwalk tsb, sambil memandang lepas ke lembah daerah Tamansari tsb hanya orang kaya yg bisa. Begitu pula jalan2 kecil yg nyaman, indah dan tertata rapih. Pemandangan alam Bandung Utara yg nyaman dan indahpun, sekarang telah terkapling2 dan hanya bisa dinikmati kalau kita punya uang. Dipikir-pikir, kisah mahalnya kenyamanan publik seperti cerita di Ciwalk tsb, ceritanya tak jauh berbeda dengan cerita 100 tahun yg lalu ketika pemandian Tjihampelas yg lokasinya dekat tempat tsb, hanya bisa dinikmati oleh orang Belanda. Inlander, yang walaupun tinggal di seberang tempat tsb, tak boleh masuk. Mungkin orang Belanda dulu bilang, kalau inlander berenangnya di kali saja sudah cukup, tak perlu ikut berenang di kolam renang ini. Nampaknya sejarah berulang, cerita nestapa ekonomi zaman kolonialisme penjajah Belanda dulu terulang lagi dalam bentuk lain dg wajah kapitalis neoliberalis dimana kenyamanan hidup hanya bisa dibeli oleh orang kaya berduit, dan orang miskin cukup bermimpi melihatnya dengan sekedar berjalan2 saja di citi walk tsb, sambil tertegun melihat barang2 mahal yg dipajang display.*** tulisan ini dan berbagai tulisan lainnya bisa dilihat di blog
punya Hendra Messa.
|
|
| | © 2003 djandjan saputra | all rights reserved | |