|
|
selasa, 07-03-2006 18:06 wib
oleh: Cahyo Sukaryo
Beberapa hari lalu, dlm sebuah obrolan santai di sela2 makan siang pada sebuah kafetaria yg hiruk-pikuk & penuh dg tangisan bayi serta percakapan, gue & 1-2 rekan terlibat percakapan ngalor-ngidul ttg berbagai hal. Topik yg pada awalnya menyangkut ttg budget kantor (dan gimana cara menghabiskannya! Hehe... becanda lho!), lambat laun bergeser pada opsi pelatihan --yg (menurut buku panduan) merupakan hak tiap pegawai; dg frekuensi pelaksanaan sebanyak2nya hingga 2x/tahun. Tentunya hal tsb dengan tidak memperdulikan besarnya biaya yg dikeluarkan maupun lokasi/lama pelatihan. Patokannya memang dibuat mudah & sederhana; pokoknya 2x setahun. Titik.. Take it or leave it!.
Salah satu topik pelatihan yg sempat dibahas dlm obrolan tadi adalah ttg 'pelatihan kualitatif' (= istilah yg digunakan seorang teman, walaupun mnrt gue sepertinya agak kurang pas). Menurut gue, sebenarnya yg dimaksudkan oleh teman tsb adalah pelatihan yg bukan membahas ttg peningkatan 'kemampuan teknikal', melainkan memfokuskan pada pengembangan 'kemampuan psikologis' (perhatikan perbedaan penggunaan adjektif; "peningkatan" vs "pengembangan").
Pelatihan dimaksud, sbg contoh; mulai dari gimana cara menghadapi org yg sulit (how to handle difficult people), hingga session John Robert Powers (aahh, is that serious?? Remember the phrase 'well-groomed', back from our SMP years...:p). Termasuk didalamnya adalah salah satu konsep yg belakangan bertambah populer; SQ atau Kecerdasan Spiritual.
Kecerdasan Spiritual merupakan pencapaian tahap lebih lanjut dari penilaian kecerdasan tradisional, yg semata mengandalkan pada kemampuan Bahasa & Matematika (dikenal dg nama IQ - you know what it is). IQ telah lama dituding sbg tidak adil & sangat tidak akurat, karena hanya 'memanusiakan' mereka2 yg cukup beruntung utk dilahirkan dg kecerdasan otak kiri - gifted; dan secara sengaja telah menciptakan tembok2 penghalang antara Kaum Super Cerdas yg dilahirkan dg IQ lebih dari 140, kemudian diikuti kelompok besar mediocare yg mungkin masih cukup beruntung, dan mereka yg harus puas menerima nasib utk menempati totem terbawah kehidupan dg IQ kurang dari 100.
SQ juga merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep EQ atau Kecerdasan Emosional (Goleman, 1995) yg menggemparkan; yg menjelaskan mengapa org2 ber-IQ tinggi ternyata gagal dalam hidup, apalagi bila dibandingkan dg org2 yg divonis sbg "hanya" ber-IQ biasa2 saja, yg ternyata bisa menjalani kehidupannya dg penuh martabat. Ini merupakan ciri2 utama karakter & disiplin diri, kesadaran diri, kendali, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial. Orang2 yg memiliki hubungan dekat yg hangat, dan yg menjadi bintang di tempat kerja. Orang2 dg 'kemampuan sosial' yang tinggi; ditandai dg mudahnya mereka menjalin hubungan baru dg orang asing (dalam arti positif), untuk kemudian dapat langsung mengambil manfaat yg memang diharapkan dari hubungan baru tsb. Disadari maupun tidak, EQ merupakan salah satu bahan tes yg paling mendasar bagi calon pegawai yg bergerak di bidang hubungan sosial, spt customer service, sales, konsultan, psikolog, auditor, dsb. Pengecualian mungkin hanya terdapat pada profesi kedokteran, yg merupakan swaprofesi (hingga tidak pernah diketahui bagaimana hasil tes EQ mereka - lagipula, siapa yg akan melakukan tes?), maupun karena para dokter terpaksa 'menumpulkan' emosi sekecil apapun yg mereka miliki, semata agar mereka dapat bekerja scr lebih efektif.
Dokter tidak boleh merasa 'kasihan'! Kredo bahwa pasien tak lebih dari preparat alias obyek percobaan telah ditanamkan semenjak tahun pertama di fakultas kedokteran. Tapi tentunya itu adalah suatu pengecualian yg dapat dipahami.
Konsep lain ttg kecerdasan adalah AQ, atau Adversity Quotient (Stoltz, 1997); yaitu bagaimana kita dapat mengubah hambatan mjd peluang. AQ mengukur kemampuan kita dalam menghadapai kesulitan. Konsep tsb berkembang dari pertanyaan2 sederhana, a.l. Mengapa beberapa orang, dg modal dan peluang yg sama dapat berhasil mengatasi kesulitan dan meraih prestasi yg setinggi2-nya, sementara banyak yg lain langsung menyerah begitu saja pada kesempatan pertama? Mengapa ada sebagian orang yg sepertinya menguasai teknik sedemikian, hingga mereka dapat menjadi lebih produktif, kreatif, dan terutama, kompetitif? Dengan melihat hidup kita sebagai suatu analogi atas pendakian gunung, kita dapat memahami bahwa kepuasan (a.k.a, kesuksesan) dicapai melalui usaha yg tak kenal lelah utk terus mendaki, meski terkadang langkah demi langkah yg ditapakkan terasa lambat dan menyakitkan. Setiap kesulitan merupakan tantangan, setiap tantangan merupakan peluang, dan setiap peluang HARUS disambut. Perubahan merupakan bagian dari suatu perjalanan yg harus diterima dg baik.
Kembali kepada SQ, Kecerdasan spiritual adlh kecerdasan yg memberikan kesadaran bhw hidup mempunyai dimensi yg lebih dalam ketimbang sekadar menghabiskan waktu untuk menimbun modal material atau kekayaan (Zohar & Marshall, 2004). Kecerdasan Spiritual juga adlh pusat dan dasar dari semua kecerdasan yang ada, yaitu fisik, mental, dan emosional, karena menjadi sumber petunjuk bagi ketiga kecerdasan tersebut (Covey, 2004). Kecerdasan spiritual mewakili dorongan kita untuk memperoleh makna dari kehidupan dan menghubungkan kita dengan Sesuatu yang Maha tanpa batas atau Maha tak terhingga. Ia juga dapat membantu kita untuk melihat prinsip-prinsip kebenaran yang juga merupakan bagian dari hati nurani kita.
Pada titik ini gue hanya bisa tertawa, mengingat detil percakapan pada sebuah kafetaria yg sama, saat seorang teman yg dg berapi2 memadamkan gairah belajar seorang rekan lain; "...SQ itu hanya ada dalam Islam - berhubungan dg Al-Qur'an; jadi gimana juga cara nya elo belajar, dan apa gunanya?" Percakapan selesai, time to go back to our work. Adakah seseorang yg belajar sesuatu di sini?
Zohar & Marshall, 2004; "..Tidak seperti halnya IQ (Kecerdasan Intelektual) --yg dimiliki komputer dan EQ (Kecerdasan Emosi) --yg dimiliki mamalia tingkat tinggi, SQ (Kecerdasan Spiritual) secara unik hanya dimiliki manusia dan menjadi dasar yg paling penting bagi macam kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual menghubungkan kebutuhan manusia untuk memperoleh makna dlm kehidupannya...."
Forum Diskusi Kepemimpinan - Harvard Business School, "Does Spritiuality
Drive Success ?" (11-12 Apr 2002);
Forum pertemuan para pimpinan puncak perusahaan internasional dari
berbagai bidang, membahas topik "...nilai-nilai spiritual yg membantu mjd
powerful leader(s). Pada akhir diskusi, disepakati bhw paham
spiritualisme mampu menghasilkan lima hal, yaitu:
1. Integritas & kejujuran
2. Energi/ semangat
3. Inspirasi/ ide & inisiatif
4. Kebijaksanaan
5. Keberanian mengambil keputusan.
![]()
Comments/Komentar
....................................................................................................