Tentang Saya (8)

memperoleh aktivitas baru. Misalnya belajar komputer (waktu masih zamannya WS dan Lotus), belajar Bahasa Inggris, dan membantu media-media dari Grup Sinar Harapan. Gaji jalan terus… walaupun dipotong 50 persen (potongan gaji akan dibayarkan jika koran sudah terbit lagi).


Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Tanggal 4 Februari 1987 koran sore pengganti Sinar Harapan lahir. Namanya koran sore Suara Pembaruan. Secara otomatis semua karyawan yang bekerja di koran sore Sinar Harapan ditampung di Suara Pembaruan.


Jalan-jalan ke LN


Bekerja di koran (sebelum krismon) memang menyenangkan. Setahun saya bisa lima sampai enam kali ke luar negeri dan tak terhitung jumlahnya kalau hanya sekadar ke luar kota. Saat itu perusahaan maupun lembaga pemerintah di bidang iptek sedang menggeliat, karena didukung Prof BJ Habibie yang saat itu sedang
menempatkan iptek di posisi paling puncak.


Begitu banyak undangan untuk menghadiri berbagai acara di luar kota dan luar negeri, mulai dari komputer, pembangkit listrik, perusahaan gas, hingga PLTN, mobil terbaru. Memang capek ke luar kota atau ke laur negeri dalam frekuensi yang begitu cepat, karena baru satu seri tulisan selesai, kemudian berangkat lagi, dan pulangnya harus membuat seri tulisan kembali.


Terus menerus melakukan kegiatan jurnalistik seperti itu memang melelahkan. Tidak cuma itu, istri dan anak saya juga selalu protes. Tidak ada waktu lagi buat mereka. Jangankah hari kerja, hari Minggu pun masuk kerja -–di kantor maupun di luar kantor. Usia di bawah 30-an memang masih sangat menyenangkan untuk berpetualang sebagai wartawan.


Waktu itu, saya pikir, kapan lagi saya mendapat kesempatan seperti itu. Kalau sudah berusia 40-an seperti sekarang ini akan sulit mendapat kesempatan seperti itu, karena pasti saya sudah harus banyak berdiam di kantor alias di belakang meja. Kemungkinan untuk jalan-jalan ke luar kantor seperti ketika sebagai reporter akan sulit diperoleh atau setidaknya akan jarang dilakukan.


Selain itu, Suara Pembaruan –ketika itu– sedang menggalakkan peliputan iptek dan memperkuat jajaran desk iptek. Sekitar dua tahun setelah menjadi reporter (sekitar akhir tahun 1989), kemudian saya dipercaya menjadi redaktur iptek. Jabatan ini saya emban sampai saya keluar dari Suara Pembaruan pada akhir tahun 1999.


Kutu Loncat


Kemudian bersama teman-teman, ketika kran membuat koran dibuka pemerintah, kami mendirikan koran sore yang diberi nama Suara Bangsa. Sebagian besar pengelolanya adalah eks Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. Karena kami hanya punya pengalaman di koran sore, maka tidak terlalu sulit untuk membuat Suara Bangsa. Dari segi content dan teknologi pembuatan koran (didukung 60 komputer dan 6 Mac G3), Suara Bangsa boleh diacungi jempol –ini pengakuan orang luar lho :-) – tapi kelemahannya adalah dari sisi manajemen perusahaan.

| Tentang Saya (1) | Tentang Saya (2) | Tentang Saya (3) | Tentang Saya (4) | Tentang Saya (5) | Tentang Saya (6) | Tentang Saya (7) | Tentang Saya (8) | Tentang Saya (9-end) | CV |