Tentang Saya (7)

yang belum selesai dibahas– dibuka pada tanggal 24 Maret 1982. Ini bertepatan dengan Hari Bandung Lautan Api. Tanggal inilah yang kemudian diadopt menjadi hari lahir klub (untuk itu di setiap nomor pokok anggota diawali dengan 24382 alias 24 Maret 1982. Nomor pokok saya adalah PLW 24382001 PW di mana PW singkatan dari Pager Wangi, nama angkatan pertama/pendiri).


Muper I juga memutuskan nama klub pecinta alam ini adalah Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Unpad. Kemudian sebagai ketuanya adalah saya.


Sementara di Angkatan 81 Fapub, saya dan teman-teman membuat majalah berita yang diberi nama Publik. Majalah tersebut akhirnya tidak hanya untuk teman-teman sekelas, tapi juga dijual di tingkat fakultas dan universitas. Malah kemudian dijual ke beberapa universitas lain di Pulau Jawa. Konsekuensinya, isi majalah tersebut diperluas seputar sosial politik. Majalah Publi pun mempunyai beberapa koresponden di beberapa perguruan tinggi.


Kerja di Sinar Harapan


Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di koran sore Sinar Harapan pada bulan Juni 1986. Saya tidak sempat dirolling ke berbagai bidang –seperti layaknya reporter muda– tapi langsung ditempatkan di desk iptek. Saya langsung dibimbing wartawan sangat senior (wartawan tiga zaman) yang ketika itu masih berusia 70-an tahun Pak Subekti (kini almarhum).


Saya beruntung dibimbing langsung oleh Pak Subekti, karena gaya tulisannya sangat mengalir dan enak dibaca. Jangan Anda berpikir kalau Pak Subekti adalah wartawan tua. Usia boleh tua, tapi semangatnya muda terus. Rambut hampir sebahu, membawa sendiri jip Willis tua warna merah menyala, antikomputer (karena Pak Subekti tidak bisa bekerja kalau tidak mendengar suara mesin tik), dan bicaranya ceplas-ceplos.


Sebagai reporter muda, saya diajari untuk membuka jaringan (networking) dan cara menulis yang mengalir. Memang sulit sekali membuat tulisan yang mengalir. Pada masa itu (ketika krismon belum melanda negeri ini) begitu banyak aktivitas iptek –baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta– sehingga bidang iptek menjadi lahan yang mengasyikkan bagi dunia jurnalistik.


Sampai pada suatu saat, karena koran sore Sinar Harapan terlalu berani, maka pemerintah tidak begitu menyukai cara-cara yang dilakukan koran yang ketika baru saja memperingati usinya yang ke-seperempat abad. Akhirnya Sinar Harapan dibredel pemerintah. Saya masih ingat ketika itu 7 Oktober 1986 pk 20:00 saya wawancara via telepon dengan Prof A Muis (almarhum) di Makassar. Belum sempat membuat berita hasil wawancara tersebut, tiba-tiba seorang senior mengumumkan baru saja mendapat telepon dari Dirjen PPG (Pembinaan Pers dan Grafika) Departemen Penerangan yang menyebutkan Sinar Harapan dibredel. Artinya besok tanggal 8 Oktober 1986 pembaca bakal tidak akan memperoleh lagi koran di emper-emper atau dari loper-loper yang mengantar ke rumah-rumah.


Memang ini bukan pembredelan yang pertama bagi Sinar Harapan, tapi yang terakhir. Karena setelah itu Sinar Harapan tidak bisa terbit lagi. Dulu –-sebelum diberlakukannya SIUPP-– pembredekan media cetak hanya berlangsung satu sampai tiga pekan. Tapi setelah adanya SIUPP, maka koran itu tidak bisa terbit lagi. Boleh terbit lagi dengan syarat ganti manajemen dan ganti nama.


Selama empat bulan masa-masa setelah dibredel, seluruh karyawan dari Sinar Harapan

| Tentang Saya (1) | Tentang Saya (2) | Tentang Saya (3) | Tentang Saya (4) | Tentang Saya (5) | Tentang Saya (6) | Tentang Saya (7) | Tentang Saya (8) | Tentang Saya (9-end) | CV |