
Saya bisa sepuasnya main aneka permainan pada masa itu, seperti lompat galah, main kelereng, main petak umpet, dan mainan-mainan lainnya yang saya sendiri Masa di sekolah dasar adalah masa paling indah. sudah lupa namanya. Namun saya tidak suka main layangan.
Ada satu pengalamanan yang masih ingat sampai sekarang. Ketika itu hari pertama masuk sekolah dasar. Seperti biasa pak guru di kelas memberi berbagai penjelasan, seperti soal jam masuk, jam pulang, pakaian, buku, dan berbagai fasilitas yang ada di sekolah. Sampai pada suatu penjelasan di mana pak guru (saya lupa namanya, tapi yang masih ingat kacamatanya tebel banget),”Anak-anak… kalau pergi dan pulang sekolah jangan lupa minta diantar atau dijemput sama orang tua, karena harus menyeberang jalan.” Pokoknya guru itu ingin mengatakan kalau sama orang tua maka menyeberang aman dan tidak mungkin tertabrak. Kemudian saya angkat tangan sambil mengatakan, ”Pak, bagaimana kalau ketabrak sama orang tuanya?” Swear… pak guru itu diam dan ada kesan (dari raut wajahnya) sangat kesal.
Banyak sekali jenis permainan yang saya sukai ketika masih di SD dan sebagian besar permainan tersebut tidak pernah saya lihat lagi saat ini, seperti main galah. Selain itu, saya mulai belajar naik sepeda ketika duduk di kelas tiga. Yang sedang populer saat itu adalah sepeda mini.
Sepeda mini memang sepeda idaman saya waktu masih kecil. Sepeda mini tersebut (saya warna merah, sedangkan adik saya warna biru) saya beli dengan uang hasil sunatan. Saya disunat ketika masih kelas tiga. Tapi karena masih di sekolah dasar, Papih dan Mamih tidak membolehkan saya naik sepeda ke jalan raya. Padahal saya ingin sekali naik sepeda ke selolah.
Sebagai Senior
Hari demi hari berlalu. Tak terasa sekarang saya sudah kelas 6. Kelas enam sekolah dasar adalah masa di mana punya adik kelas, sehingga merasa bangga sebagai senior. Selalu ada perasaan bangga ‘tidak ada yang lebih tua dari saya.’ Kalau tidak salah, pada waktu kelas 6 inilah saya mulai tertarik sama perempuan. Waktu itu perempuan itu adalah adik kelas (kelas 4) yang penampilannya cantik. Rumahnya dekat sekolah, sekitar 300 meter.
Walaupun sebenarnya jalur pulang tidak lewat rumah perempuan itu (waktu kelas 6 saya tidak pakai becak lagi), tapi kalau saya pulang selalu ‘menyempatkan diri’ lewat depan rumahnya. Ini kali yang disebut cinta monyet. Karena ketika jalan kaki dan sebentar lagi akan melewati rumah dia, alah maaakk… jantung ini berdetak keras sekali… (jadi malu nih
)
Begitupun dia tampaknya (ini anggapan saya aja) memberi harapan. Walaupun niat saya tersebut
| Tentang Saya (1) | Tentang Saya (2) | Tentang Saya (3) | Tentang Saya (4) | Tentang Saya (5) | Tentang Saya (6) | Tentang Saya (7) | Tentang Saya (8) | Tentang Saya (9-end) | CV |